Langsung ke konten utama

Resensi Novel "Hujan" Karya Tere Liye


Resensi Novel
Hujan-Tere Liye
Sebagai salah satu persyaratan kelulusan Ujian TIK Mahasiswa Baru
Universitas Negeri Yogyakarta
Nama   : Fannisya Aulya Iskandar
NIM    : 18202244018
Prodi/Fakultas : Pendidikan Bahasa Inggris/Fakultas Bahasa dan Seni

HUJAN

Hasil gambar untuk novel hujan gramedia
1.      Identitas Buku
Judul               : Hujan
Penulis             : Tere Liye
Cetakan           : Cetakan ke-1, 2016
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku      : 318 halaman; 23 cm
ISBN               : 978-602-03-2478-4
2.      Sinopsis Buku
Semua bermula ketika Lail bertemu dengan Elijah, paramedis senior, yang akan membantu Lail untuk menghapus gumpalan benang merah yang memilukan. Tentang hujan yang dulu ia senangi, sebelum tiba datangnya bencana alam gempa bumi dan gunung meletus yang melebihi Gunung Krakatau dan Tambora pada masanya.
Lail yang waktu itu masih berusia 13 tahun, terpaksa menjadi sebatang kara. Karena Ibunya yang jatuh ke dalam lubang tangga darurat kereta dan tertimpa reruntuhan bersama dengan puluhan orang lainnya, sedangkan Ayahnya berada di luar negeri. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Esok, yang juga bernasib sama. Empat kakak Esok juga tertimbun reruntuhan di dalam lorong kereta, dan meninggalkan Esok sendirian.
Esok adalah remaja yang jenius dan pintar. Sampai suatu hari Lail mendengar kabar bahwa Esok diangkat dan diasuh oleh keluarga lain dan mengharuskan untuk pindah ke Ibukota agar ia bisa bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Ini berarti Lail dan Esok akan berpisah dalam jangka waktu yang lama. Sedangkan Lail tinggal di panti asuhan dan berteman dengan Maryam, lalu mereka mengikuti program relawan yang diadakan oleh para petugas relawan.
Hari terus berganti, kotapun kembali pulih setelah kejadian gempa bumi dan gunung meletus beberapa waktu yang lalu. Para ilmuwan berlomba-lomba menciptakan tablet setipis kertas HVS, layar hologram, kulkas yang bisa berpikir, perangkat listrik nirkabel, mesin pembersih ruangan otomatis, dan berbagai peralatan dengan teknologi maju. Begitupun dengan bangunan yang sudah mulai mengadopsi sistem pintar. Supermarket tanpa pelayan, hotel yang tidak ada petugas penerima tamu melainkan semua kegiatan check-in dan check-out menggunakan mesin.
Namun pada akhirnya, semua kebahagian itu akan berakhir sirna. Sejak kejadian gempa bumi dan gunung meletus beberapa waktu yang lalu, ilmuwan menemukan miliaran ton sulfur dioksida memenuhi lapisan stratosfer dan iklim bumi akan menjadi tidak terkendali seratur tahun ke depan. Umat manusia harus segera diselamatkan dari kepunahan, dan salah satu caranya adalah mengirimkan umat manusia keluar dari bumi dengan menggunakan “kapal” antariksa yang hanya bisa menampung sepuluh ribu penduduk.
Satu bulan kemudian, Esok dan Lail menikah, di tengah teriknya matahari. Lail dan Esok memilih untuk tetap tinggal di bumi, menghabiskan sisa hidup dan menikmati musim panas yang panjang yang akan menghabisi seluruh umat manusia. Segala manis dan pahitnya kehidupan telah mereka lalui, dan Lail berhasil menghapus benang merah, memori tentang hujan, masa kelamnya, dan tentang Esok berkat bantuan Elijah.
3.      Bahasa Kepengarangan
Dalam novel ini, penulis menggunakan bahasa ringan dan sederhana, sehingga pembaca dengan mudah mengimajinasikan gambaran peristiwa yang ada di novel tanpa merusak alur dan rangkaian kejadian yang sudah tertulis
4.      Jenis Buku
Buku "Hujan" merupakan cerita science fiction
5.      Amanat
Novel ini mengajarkan arti ikhlas kehilangan orang terdekat, sabar menghadapi sesuatu dalam kondisi terburuk sekalipun, mengajarkan arti sahabat, dan menghilangkan ego untuk membantu sesama umat manusia
6.      Keunggulan dan kelemahan buku
Jika dinilai dari cover buku, novel Hujan ini bagus dalam pemilihan warna. Alurnya pun mudah untuk dipahami untuk para pembaca yang masih remaja, dengan tema dan konflik yang tepat dan tidak mudah ditebak. Tapi sayangnya, menurut saya pemilihan desain untuk cover novel ini sangat sederhana.
7.      Kesimpulan
Terlepas dari kelemahan buku yang ada, menurut saya buku ini sangat layak dibaca oleh semua kalangan terutama remaja. Selain alur yang sudah tepat, bahasa yang digunakan penulispun tidak akan membuat bingung para pembaca



Daftar Pustaka:

Liye, Tere. 2016. Hujan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
http://library.uny.ac.id/sirkulasi/index.php?p=show_detail&id=53885&keywords=tere+liye
 Gambar novel hujan: https://www.gramedia.com/products/hujan-tere-liye

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ini Ceritaku, Mana Ceritamu?

Oh haiiii h ello guyssss welcome-back to my bloggggg eheheheh!!!! :))))) Kali ini aku bakalan cerita tentang pengalamanku selama kurang lebih hampir sebulan di ikanobu jakut Jadi...waktu aku masih kelas 10,sekolahku kedatangan tim dari ikanobu jakut. Mereka mensosialisakan tentang IJakarta. Sedikit informasi ya untuk kalian para pembaca blogku<3 IJakarta itu adalah perpustakaan digital yang bisa diakses melalui smartphone atau laptop kamu. Awalnya mereka memperkenalkan diri, mereka bilang kalo mereka dari Abang dan None Buku Jakarta Utara. Waktu mereka bilang mereka dari abnonku aku bener2 bingung, emang ada ya abang none buku? Karena setau aku abang none itu ya cuma abang none pariwisata aja hahaha. Ok, mereka mulai ngejelasin ttg IJakarta dan mereka ngenalin juga tentang Abang None Buku. Dan dari situ akhirnya aku mulai tertarik untuk ikut abnonku hahaha, aku mulai follow official instagram abnonku, aku ikutin terus update info seputar abnonku. Sampai akhirnya ada 1 foto dari...

Selamat 20 Tahun

Hi everyone! I'm back with another episode of Fannisya's  gak-begitu-penting writing hehe. So I, finally, decide to start writing again because I kinda miss it. It's been a long time, 2 tahun cuy terakhir banget gue nulis ngasal kayak gini sampe akhirnya sekarang mencoba buat nulis lagi yaaaaa semoga aja ini gaakan numpuk di kumpulan draft doang wkwk. Oiya, terakhir kali gue nulis kalo gak salah gue masih semester 1 dan GUESS WHAT sekarang gue udah semester 5! HAHAHAHHAHAHA gue juga gak ngerti kenapa bisa secepet ini waktu berlalu~ So I'm 20 this year. Pretty old, but not that old. Pretty young, but not that young. Bingung? Banget. I didn't expect that when I turned into the age of 20, the pandemic happened—all of a sudden. Gue gak pernah nyangka tahun ini gue bakalan full di rumah aja, di depan laptop ngurusin kerjaan (re: kuliah, tugas, organisasi, dan repeat) tanpa keluar rumah (sometimes gue keluar sih tapi gue bener2 avoid kerumunan, keluar juga cuma beli makan...